Rabu, 21 Januari 2009

sosialisasi kepengurusan dan proker














sosialisasi kepengurusan dan program kerja periode 2008-2010
optimalisasi peran dan sinergitas dalam mewujudkan kinerja berlembaga
(kanda halik aksan kelana, jumadi maulana (ketua umum KPMP), Camat suppa, julianto ali (ketua KPMP Cab. Suppa)

sosialisi kepengrusan di lakukan di gedung serba guna samping kantor camat kec.suppa pada bulan 8 (agustus) 2008 yang dihadiri unsur pemerintah setempat, kalangan akademisi mahasiswa dan pelajar serta tokoh-tokoh masyarakat se kecamatan suppa.

Jumat, 02 Januari 2009

KAMARRANG ISLAND.

Salah satu obyek wisata bahari yang terletak di kecamatan Suppa (± 30 Km arah selatan kota Pinrang). Kawasan ini diapit oleh laut sehingga menarik untuk dikunjungi. Pulau Kamarrang adalah wilayah Kabupaten Pinrang yang berhadapan dengan kota Parepare, sehingga bila kita mau menyeberang ke pulau ini lebih dekat bila anda lewat Pelabuhan Parepare naik perahu tradisional dan hanya memerlukan waktu ± 15 menit.
kamarrang island kaya akan ekosistem laut diantaranya ekosisitem mangrove, terumbu karang dan ekosistem padang lamun. ekosistem mangrove dapat ditemukan dibagian sisi belakang pulau yang tumbuh lebat dan alami hampir setengah badan pulau, ekosistem terumbu karang dapat dijumpai di bagian belakang pulau antara daratan utama dan pulau yang hampir di dominasi oleh karang tabulate (karang meja), dan karang achropora (karang bercabang) selain biodiversity pulau kamarrang juga menyediakan tempat penginapan yang memanjakan pengunjung untuk melihat gemerlap malam kota pare-pare dari arah laut.
banyak pengunjung yang berdatangan di hari libur sekolah baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan asing. seperti yang dikemukan oleh julianto ali, anto' itu sapaan keseharian dilingkungannya, anto merupakan mahasiswa ilmu kelautan UNHAS yang merupakan putra daerah (kec.suppa) yang pernah menikmati nikmatnya alam pulau kamarrang. pria tinggi ini tidak sendiri dia membawa teman-teman angkatnnya di jurusan ilmu kelautan UNHAS untuk melihat keanekaragaman ekosisitem yang ada di pulau kamarrang al hasil mereka terpukau, dikarenakan ekosistem mangrove-nya masih sangat alami dan tumbuh lebat.
selain beberapa ekosistem laut yang dikatakan diatas pulau kamarrang juga memiliki ciri khas yaitu salah satu pulau yang didiami oleh hewan neukturnal (hewan yang beraktifitas di malam hari) (kelelawar) hewan yang memiliki kepala yang mirip anjing ini banyak di jumpai di pohon-pohon mangrove disekitar pulau, pemandangan yang khas ini dapat di nikmati di siang hari.

kamarrang island merupakan potensi daerah yang tak ternilai harganya baik dari segi ekonomi maupun dari segi ekologi.
"menjaga keseimbangan ekosistem Laut meningkatkan Sumberdaya perikanan"
"Rawatlah Alam-mu maka dia akan menjagamu"


By : JULIANTO ALI

Suppa Terima 450 Paket Prona

Jumat, 02-05-2009
dikutip http://www.ujungpandangekspres.com/view.php?id=18179

PINRANG-, Upeks Tahun ini, Kecamatan Suppa memperoleh Prona dengan jumlah 450 sertifikat, Kecamatan Lanrisang 100, dan Kecamatan Lembang 200 sertifikat. Hal tersebut diungkapkan Ketua Tim Sosialisasi dan Penyuluhan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Pinrang, Drs Muh Azis P. Menurutnya, Prona sebenarnya telah berganti, dengan nama Percepatan Pelaksanaan Pendaftaran Tanah (PPPT). Namun kata dia, mekanisme dan persyaratannya sama. Azis mengakui, Prona 2007 dinilai bermasalah karena pihaknya tidak melibatkan pihak pemkab, kejaksaan dan Polres. Camat Suppa M Aswin SIp menambahkan, banyak kasus tanah di Kecamatan Suppa, dan kasusnya termasuk tinggi karena hampir setiap hari ada pelapor tentang kasus tanah. Dalam satu minggu, kasus tanah rata-rata empat sampai lima kasus. Aswin menjelaskan, pemerintah desa dan kecamatan, merupakan hakim pendamai bukan hakim pemutus, karena memutuskan suatu perkara adalah kewenangan Pengadilan Negeri (PN) dan Pengadilan Agama (PA).

Organisasi dan Akademik

organisasi merupakan suatu wadah formal yang menampung beberapa individu yang memiliki sifat karakter dan itelektual yang berbeda-beda, dimana didalamnya terjadi proses pengembangan diri, pola berfikir dan managemen diri yang teramu dalam sutu wadah yang bisa mengimplementasikan dan mengembangkan secara keseluruhan ide kreatifitasnya dalam suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan, sedangkan Akademik merupakan suatu kegiatan formal yang didapat di bangku sekolah atau bangku kuliah yang sifatnya umum serta menjurus ke suatu bidang pendidikan, yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni. mengingat pentingnya ke dua hal tersebut dan melihat realita yang terjadi dimasyarakat maka sewajarnyalah pelaku akademik mengembangkan pola fikir dan menuangkannya dalam organisasi yang memiliki output dan impact yang berguna untuk masyarakat (agen social of control).

Dalam keseharian kita sering bertanya, “mana lebih penting, akademis ato organisasi sih?” Pertanyaan tersebut seharusnya tidak terlontar saat masing-masing kita bertanya dulu, “kenapa gw harus mengejar akademis?” dan “kenapa gw harus berorganisasi?” Cukup punya alasankah kita? Hah? Karena dua hal tersebut sepatutnya bisa bersinergi dalam pencapaiannya agar kita bisa memenuhi cita-cita perguruan tinggi. Emang apa sih cita-cita perguruan tinggi itu? Nah, menurut Moh. Hatta tugas besar perguruan tinggi itu adalah membentuk manusia susila demokrat yang:

1. Memiliki keinsyafan tanggungjawab atas kesejahteraan masyarakatnya

2. Cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan

3. Cakap memangku jabatan atau pekerjaan dalam masyarakat

Nah, dengan cita-cita tersebut mari kita analisis apa sebenarnya kebutuhan kita. Yang pasti kita memang benar-benar harus belajar. Belajar apa? Apapun!

Mari kita tinjau point pertama. Saat kita dituntut untuk memiliki keinsyafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat, apa mungkin tercapai saat kita hanya mengurung diri kita dalam tembok angkuh ruang kelas dan laboratorium?hah?

Saat kita dituntut cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan, apa mungkin tercapai saat kita melempem tidak memiliki sifat kritis?hah?

Lalu, saat kita dituntut untuk cakap memangku jabatan dalam masyarakat, apa mungkin tercapai jika kita hanya melatih diri kita dengan cara duduk diam dan mendengarkan dosen atau asdos?hah?

Justru karena itulah,ya, karena tuntutan yang dilimpahkan pada kita tidaklah kecil maka kita juga harus belajar bagaimana “hidup”,belajar bagaimana bertanggungjawab, berempati, bersosialisasi, dan sebagainya untuk bisa mencapai cita-cita besar perguruan tinggi itu.

Kita harus berlaku selayaknya insan akademis. Apa tuh? Insan yang selalu mengembangkan diri agar bisa menjawab tantangan masa depan. Juga insan yang mengikuti watak ilmu yang selalu mencari dan membela kebenaran ilmiah. Nah, mari kita cari tau kebenaran ilmiah dalam aktivitas kita! Kenapa kita kuliah?kenapa kita berkegiatan non kurikuler (organisasi,dsb)?apakah dua-duanya penting?kenapa penting?

Pertanyakanlah! Pertanyakanlah!

Karena yang pasti, di tiap pundak kita sudah ada seonggok beban berat akan nasib bangsa kita.

yah..yah..yah..mungkin saat ini kita sedang ragu akan hal itu..”iya gituh?” hahahaha..

Pilihannya tinggal apakah kita cukup bernyali untuk membuka mata, telinga dan hati sehingga bisa melihat kenyataan seonggok beban itu? Atau kita lebih memilih untuk berpura-pura tidak tahu akan kenyataan itu? Yah..,silakan pilih..

Jika pilihannya adalah berani, maka kita harus tahu apa sebenarnya yang harus kita pelajari. Pertanyakanlah!

Tapi, jika pilihanya adalah berpura-pura tidak tahu, kembali..,silakan pulang, TIDUR!

Yang pasti jika mengapa itu semakin besar, maka bagaimana itu akan semakin kecil.

Jika “mengapa kita harus kuliah dan berorganisasi?” terjawab dengan lantang..,maka “bagaimana kita bisa kuliah dan berorganisasi dengan baik?” akan mudah terjawab..

Jadi tidak ada “Vs”. Karena akademik dan aktivitas nonkrikuler (organisasi),

bukan untuk dipilih salah satu!

Sabtu, 29 November 2008

LAMAPANYUKKI DATU LOLO RI SUPPA (1931-1946)


(lamapanyukki)...........(Korban 40.000 Jiwa)


La Mappanyukki Datu Lolo ri Suppa yang juga dikernal dengan nama Datu Silaja. Pada masa Perang Gowa tahun 1906 M, ketika I Makkulawu Karaeng Lembang Parang KaraengE ri Gowa berperang dengan Kompeni Belanda. Setahun setelah tertangkapnya La Pawawoi dan diasingkan ke Bandung, Kompeni Belanda mengalihkan perangnya dari Bone ke Gowa. Padahal antara La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan SombaE ri Gowa adalah bersepupu satu kali. Ketika itu La Mappanyukki menjadi Datu Lolo ri Suppa, dia bersaudara dengan La Panguriseng Datu Alitta. Karena ayahnya adalah Karaeng ri Gowa, sehingga Suppa dengan Alitta melibatkan diri pada Perang Gowa untuk membantu ayahnya

Sedangkan anak La Mappanyukki yang bernama Abdullah Bau Massepe, inilah yang menjadi Datu Suppa. Akan tetapi dimasa perang kemerdekan, dia dibunuh oleh serdadu Belanda yang bernama Westerling dalam peristiwa Korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan. Abdullah Bau Massepe kawin dengan We Soji Petta Kanjenne.

By : Julianto Ali

monumen Pertempuran Letnan M. Said dan Letnan Murtala

Latar Belakang Sejarah

Image

Monumen murtala di Parengki Kec. Suppa

Rombongan Murtala berangkat dari Parengki-Suppa menuju ke markas BPRI-Suppa untuk menemui Andi Selle dan Ambo Siradje. Sementara isteri Murtala karena masih pusing sehingga masih tinggal di Parengki dan dititipkan pada rakyat, yaitu di rumah La Deleng. Oleh Komandan kelompok pasukan ekspedisi TRIPS Letnan Abdul Latif, memerintahkan agar pasukan ekspedisi TRIPS yang dipimpin oleh Letnan Murtala dan Letnan M. Said, segera menyusul ke tempat konsolidasi pasukan TRIPS di Paladange-Suppa bersama induk pasukan untuk menghindari serangan KNIL/KL, karena pos penjagaannya tidak jauh jaraknya dari lokasi tempat pendaratan pasukan ekspedisi, yaitu di Jampue.

karena sikap keras kepala dari pada Letnan Murtala mempengaruhi dan menyatakan bahwa kita ke Sulawesi Selatan adalah ditugaskan untuk bertempur melawan Belanda, dan kenapa harus menyingkir menghadapi musuh (Betanda). Dengan sikap yang demikian itulah maka Letnan Murtala memutuskan untuk bermalam di Parengki-Suppa dan keesokan harinya sekitar jam 05.00 subuh barulah meneruskan perjalanan, akan tetapi dalam perjalanan pagi-pagi buta itu, pasukan KNIL/KL telah mengepung dengan ketat lokasi dari pada pasukan ekspedisi TRIPS di bawah pimpinan Letnan Murtala. Oteh karena itu pecahlah pertempuran sengit dari pagi-pagi buta sekitar jam 05.00 sampai dengan jam 17.00 yang menyebabkan gugurnya seluruh pasukan Letnan Murtala dengan gagah perkasa sebagai kusuma bangsa dengan penuh keberanian, pantang menyerah kepada musuh.

Uraian Tentang Monumen

Monumen pertempuran Letnan Satu M. Said dan Letnan Muda Murtala bersama pasukan ekspedisi TRIPS tersebut, terletak di Parengki Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan.

Bangunan monumen pertempuran ekspedisi TRIPS yang dipimpin Letnan Satu M. Said dan Letnan Muda Murtala tersebut, berbentuk prasasti dengan tinggi sekitar satu meter dan ukuran samping kiri/ kanan depan/belakang sekitar satu meter, di mana pada bagian atas yang agak miring terdapat tulisan yang bunyinya sebagai berikut :

Patut Dikenang Oleh Generasi Penerus
Untuk Hari Esok Yang Lebih Cerah Dart Pada Hart Ini.
Jiwa dan Raga Kami Persembahkan Kepadamu Ibu Pertiwi

Di tempat inilah pada tahun 1946 terjadi pertempuran yang maha dahsyat dipimpin oleh Letan Satu M. Said dan Letnan Muda Murtala dengan tentara Belanda (KNIL). Tertembak mati 35 orang, sedang di pihak TRI gugur 19 orang bersama awak perahu, termasuk :

1. Letnan satu M. Said
2. Letnan Muda Murtala

Dimasukkan dalam sumur tua tempat tonggak sejarah ini berdiri disaksikan oleh :

1. Parappuang
2. M. Dahlan
3. Sahabu

" Kenang, kenanglah kami "

Parengki, 10 November 1978
Ketua BPPD Sulawesi Selatan
(Badan Pembina Pahlawan Daerah)

Ttd


(Andi Oddang)




Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS Letnan Abdul Latief di parengki SUPPA

Latar Belakang Sejarah
Kelompok pasukan ekspedisi TRIPS yang dipimpin oleh Abdul Latief ini terdiri dari sekitar 20 Orang, pasukan ini diberangkatkan dari Situbondo Jawa Timur dengan sebuah perahu layar dalam bulan oktober 1946, dengan penyamaran sebagai pedagang akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di parangki-Barandasi-Suppa., kelompok ini membawa senjata lengkap yang terdiri dari : 1 Mortir (teki-danto) buatan Yogyakarta, 3 pistol, 7 Karabyn 9.5 mm, Owegun, 1 Stegun buatan yogyakarta, dan beberapa lusin peluru organic. Setelah pasukan ekspedisi mendarat dijemput oleh pasukan BPRI-Suppa yang kemudian meneruskan perjalanan ke Markas BPRI-Suppa, Namun karena sakit disentri abdul Latief dibawa ke Makassar untuk mendapatkan pengobatan, tetapi ketika hendak memasuki makassar ia ditangkap oleh pasukan KNIL/westerling ia bersama dua orang pengawal yang ditembak mati saat itu juga, berbekal bahasa belanda Abdul Latief kemudian dibawa untuk menghadap Kapten Wasterling untuk di periksa agar dapat diperlakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan perang Konvensi Genewa.



Image


Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS VII Mayor M. Saleh Lahade
dan Letnan Andi

Ekspedisi Pasukan Komando yang pertama dipimpin Mayor Andi Mattalatta berhasil mendarat dengan selamat di Barru pada tanggal 27 Desember 1946. Pasukan ekspedisi pasukan Komando berikutnya dipimpin oleh Kapten Andi Sarifin berhasil mendarat di Wiringtasi/Soppeng Riaja/Barru. Namun, seminggu setelah pendaratan, pasukan ekspedisi ini tertibat dalam pertempuran di SatossoE dcngan pasukan KNIL/Betanda. Pada pertempuran tersebut, pimpinan pasukan Kapten Andi Arifin gugur sebagai kusuma bangsa, sehingga pimpinan pasukan beralih kepada wakil pimpinan, yaitu Letnan Andi Sapada. Pasukan ekspedisi Komando yang terakhir dipimpin oleh Mayor M. Saleh Lahade dengan staf yang terdiri atas Lettu Andi Oddang, Letnan Sukarno, Letda Dg. Gassing dan Kopral Pasarai dengan anggota pasukan sebanyak 17 orang. Ekspedisi ini berhasil mendarat di Suppa, dan bergabung dengan pimpinan kelaskaran BPRI-Suppa, di antaranya : Andi Selle, Ambo Siradje, Ambo Bunga, Andi Paramajeng, Yusuf Rasul, dan Puang Toreang.

Image

Kemudian, Mayor M. Saleh Lahade berusaha untuk menemui Mayor Andi Mattalatta yang pada waktu itu berada di Paccekke Barru. Usaha untuk menjalin hubungan dengan pimpinan-pimpinan pasukan ekspedisi akhirnya terwujud dalam pertemuan antara pimpinan pasukan, Andi Mattalatta, M. Saleh Lahade dan Andi Sapada di desa Baruga. Dalam pertemuan ini disepakati untuk melaksanakan pertemuan dengan pimpinan-pimpinan kelaskaran di Paccekke pada tanggal 18 Januari 1947. Pemilihan Paccekke sebagai tempat pertemuan antara pimpinan-pimpinan ekspedisi pasukan Komando TRIPS dan pimpinan-pimpinan kelaskaran yang ada di Sulawesi Selatan adalah karena letaknya yang dipandang akan cukup sulit dijangkau tentara Belanda. Paccekke terletak di Wilayah kecamatan Soppeng Riaja-Barru, dengan jarak sekitar 15 km ke arah timur pada jalan poros antara Makassar ke Pare-Pare. Pertemuan itu akhirnya dapat juga terwujud walaupun usaha pimpinan-pimpinan pasukan mendapat rintangan dan tantangan dari tentara Belanda. Pertemuan yang semula direncanakan pada tanggal 18 Januari 1947 itu baru dapat terse(enggarakan pada 20 Januari 1947 dan berlangsung selarna dua han. Pertemuan ini kemudian lebih dikenal dengan Konferensi Paccekke. Konferensi Paccekke dihadiri oleh pimpinan-pimpinan kelaskaran yang mewakili kurang lebih 10 kelaskaran. Pada tanggal 21 Januari 1947, Andi Mattalatta dan M. Saleh Lahade berhasil membentuk TRI Divisi Hasanuddin, sesuai dengan tugas dan wewenang yang diberikan oleh Panglima Besar Sudirman. Oteh karena itu tokoh yang dipilih dan disetujui untuk menjadi Panglima TRI Divisi Hasanuddin, Andi Abdutlah Bau Massepe, telah ditangkap oleh Belanda, maka staf sementara TRI Divisi Hasanuddin berada di bawah pimpinan Mayor Andi Mattalatta dengan M. Saleh Lahade sebagai kepala staf. Staf TRI Divisi Hasanuddin ini dibagi ke dalam empat seksi yang masing-masing secara berurutan dipimpin oleh : Kapten Muhammad Syah, Kapten Maulwi Saelan, Kapten Andi Sapada dan kapten Andi Oddang.

Namun dalam perkembangan kemudian, karena keadaan mereka semakin terdesak dan kekurangan perlengkapan perang seri, semakin gencarnya operasi militer Belanda, sehingga pihak pejuang! akhirnya memilih untuk kembali ke Jawa dan melanjutkau perjuangan di Jawa. Pada butan April 1947, Andi Selle,Andi Oddann" dan ketompoknya menyeberang ke jawa. Disusul kemidian dengan rombongan M. Sated Lahade pada bulan Mel 1947, rombongan Achmad Lamo dkk., pada bulan Juni 1947, romoongan Andi Mattalatta dkk., pada bulan Agustus 1947, dan lain-iainnya. Dan perkiraan 1000 oranq pasukan yang diberangkatkan sebagai anggota pasukan ekspedisi TRIPS ke Sulawesi Selatan, hanya sekitar 100 orang anggota pasukan yang berhasil melotoskan din kembali ke Jawa untuk melanjutkan perjuangan

Uraian Tentang Monumen

Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS yang dipimpinoleh Mayor M. Saleh Lahade dan Letnan Andi Oddang tersebut, terletak di Sabbangparu Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan.

Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS tersebut berbentuk prasasti dengan tinggi sekitar satu meter lebih, dan ukuran samping kiri/kanan depan/belakang sekitar satu meter, dimana pada bagian atas agak miring sedikit terdapat pada tulisan yang berbunyi sebagai berikut :

EKSPEDISI TRI PERSIAPAN SULAWESI

Dengan Tekad

MERDEKA atau MATI

Di tempat inilah pada bulan Desember 1946 mendarat Ekspedisi

TRI Persiapan Sulawesi. Antara lain :

1. Mayor Saleh Lahade

2. Letnan Andi Oddang

3. Letnan Soekarno

4. Prajurit Pasarai

Disaksikan Oleh :

1. M. Dahlan

2. I. Sidi

"ESA HILANG DUA TERBILANG"

Sabbangparu, 10 Desember 1978

KETUA BPPD SULAWESI SELATAN

(BADAN PEMBINA PAHLAWAN DAERAH)

Ttd.

(Andi Oddang)



SEJARAH KAB. PINRANG

Letak Geografis
Kabupaten Pinrang dengan ibukota Pinrang terletak disebelah 185 km utara ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, berada pada posisi 3°19’13” sampai 4°10’30” lintang selatan dan 119°26’30” sampai 119°47’20” bujur timur. Secara administratif, Kabupaten Pinrang terdiri atas 12 kecamatan, 39 kelurahan dan 65 desa. Batas wilayah kabupaten ini adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah Timur dengan Kabupaten Sidenreng Rappang dan Enrekang, sebelah Barat Kabupaten Polmas Propinsi Sulawesi Barat dan Selat Makassar, sebelah Selatan dengan Kota Parepare. Luas wilayah Kabupaten mencapai 1.961,77 km².

Topografi Wilayah
Kondisi Topografi wilayah pada umumnya berbukit-bukit dengan ketinggian 100 – 2000 meter di atas permukaan laut.

Swapraja Sawitto, Swapraja Batu Lappa, Swapraja Kassa dan Swapraja Suppa.merupakan pelopor berdirinya kab.pinrang. Ketika Pinrang menjadi onder-afdeling di bawah afdeling Parepare Sementara afdeling Parepare adalah salah satu afdeling dari tujuh afdeling yang ada di propinsi Sulawesi.
Prajurit - parjurit Sawitto dengan gigih mengadakan perlawanan abdi kerajaan mati - matian mempertahankan dan membela bumi ini berkesudahaan dengan kekalahan dipihak Sawitto sehingga raja La Paleteang dan isterinya dibawa ke Gowa sebagai tanda kemenangan Gowa atas Sawitto. Awan yang meliputi kesedihan rakyat atas kepergian sang raja yang arif dan bijaksana. Upaya yang dilakukan membebaskan sang raja bersama permaisuri kerajaan Sawitto. Akhirnya dalam suatu musyawarah kerajaan terpilih dua Tobarani, yaitu Tolengo dan To Kipa untuk mengemban tugas membebaskan sang raja beserta permaisurinya. Kemudian berangkatlah kedua bersaudara tersebut ke Gowa yang berhasil membawa pulang raja La Paleteang beserta permaisurnya. Kedatangan raja bersama permaisuri, disambut dengan luapan kegembiraan dan di elu - elukan sepanjang jalan menuju istana. dibalik kegembiraan itu, mereka terharu melihat kondisi sang raja yang mengalami banyak perubahan seraya mengatakaan " PINRA KANA NI TAPPA NA DATUE POLE RI GOWA " Yang artinya wajah raja menagalami perubahan sekembali dari Gowa. Kata-kata inilah senantiasa terlontar dari orang - oraang yang menyertai sang raja. Ketika raja beristrahat sejenak sebelum tiba di istana bertitahlah sang raja kepada pengantarnya untuk menyebut tempat tersebut dengan nama PINRA.kota Pinrang yang dahulunya rawa-rawa yang selalu tergenang air membuat masyarakat senantiasa berpindah-pindah mencari wilayah pemukiman yang bebas genangan air, berpindah-pindah atau berubah-ubah pemukiman, dalam bahasa bugis disebut "PINRA - PINRA ONROANG" setelah masyarakat menemukan tempat pemukiman yang baik, maka diberinya tempat tersebut:PINRA-PINRA.Dari kedua sejarah yang berbeda itu lahirlah istilah yang sama yaitu " PINRA " kemudian kata itu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh intonasi dan dialek bahasa bugis sehingga menjadi Pinrang yang sekarang ini diabadikan menjadi Kabupaten Pinrang. (dikutip situs resmi kab.Pinrang)

By : JULIANTO ALI