Sabtu, 29 November 2008

LAMAPANYUKKI DATU LOLO RI SUPPA (1931-1946)


(lamapanyukki)...........(Korban 40.000 Jiwa)


La Mappanyukki Datu Lolo ri Suppa yang juga dikernal dengan nama Datu Silaja. Pada masa Perang Gowa tahun 1906 M, ketika I Makkulawu Karaeng Lembang Parang KaraengE ri Gowa berperang dengan Kompeni Belanda. Setahun setelah tertangkapnya La Pawawoi dan diasingkan ke Bandung, Kompeni Belanda mengalihkan perangnya dari Bone ke Gowa. Padahal antara La Pawawoi Karaeng Sigeri dengan SombaE ri Gowa adalah bersepupu satu kali. Ketika itu La Mappanyukki menjadi Datu Lolo ri Suppa, dia bersaudara dengan La Panguriseng Datu Alitta. Karena ayahnya adalah Karaeng ri Gowa, sehingga Suppa dengan Alitta melibatkan diri pada Perang Gowa untuk membantu ayahnya

Sedangkan anak La Mappanyukki yang bernama Abdullah Bau Massepe, inilah yang menjadi Datu Suppa. Akan tetapi dimasa perang kemerdekan, dia dibunuh oleh serdadu Belanda yang bernama Westerling dalam peristiwa Korban 40.000 jiwa di Sulawesi Selatan. Abdullah Bau Massepe kawin dengan We Soji Petta Kanjenne.

By : Julianto Ali

monumen Pertempuran Letnan M. Said dan Letnan Murtala

Latar Belakang Sejarah

Image

Monumen murtala di Parengki Kec. Suppa

Rombongan Murtala berangkat dari Parengki-Suppa menuju ke markas BPRI-Suppa untuk menemui Andi Selle dan Ambo Siradje. Sementara isteri Murtala karena masih pusing sehingga masih tinggal di Parengki dan dititipkan pada rakyat, yaitu di rumah La Deleng. Oleh Komandan kelompok pasukan ekspedisi TRIPS Letnan Abdul Latif, memerintahkan agar pasukan ekspedisi TRIPS yang dipimpin oleh Letnan Murtala dan Letnan M. Said, segera menyusul ke tempat konsolidasi pasukan TRIPS di Paladange-Suppa bersama induk pasukan untuk menghindari serangan KNIL/KL, karena pos penjagaannya tidak jauh jaraknya dari lokasi tempat pendaratan pasukan ekspedisi, yaitu di Jampue.

karena sikap keras kepala dari pada Letnan Murtala mempengaruhi dan menyatakan bahwa kita ke Sulawesi Selatan adalah ditugaskan untuk bertempur melawan Belanda, dan kenapa harus menyingkir menghadapi musuh (Betanda). Dengan sikap yang demikian itulah maka Letnan Murtala memutuskan untuk bermalam di Parengki-Suppa dan keesokan harinya sekitar jam 05.00 subuh barulah meneruskan perjalanan, akan tetapi dalam perjalanan pagi-pagi buta itu, pasukan KNIL/KL telah mengepung dengan ketat lokasi dari pada pasukan ekspedisi TRIPS di bawah pimpinan Letnan Murtala. Oteh karena itu pecahlah pertempuran sengit dari pagi-pagi buta sekitar jam 05.00 sampai dengan jam 17.00 yang menyebabkan gugurnya seluruh pasukan Letnan Murtala dengan gagah perkasa sebagai kusuma bangsa dengan penuh keberanian, pantang menyerah kepada musuh.

Uraian Tentang Monumen

Monumen pertempuran Letnan Satu M. Said dan Letnan Muda Murtala bersama pasukan ekspedisi TRIPS tersebut, terletak di Parengki Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan.

Bangunan monumen pertempuran ekspedisi TRIPS yang dipimpin Letnan Satu M. Said dan Letnan Muda Murtala tersebut, berbentuk prasasti dengan tinggi sekitar satu meter dan ukuran samping kiri/ kanan depan/belakang sekitar satu meter, di mana pada bagian atas yang agak miring terdapat tulisan yang bunyinya sebagai berikut :

Patut Dikenang Oleh Generasi Penerus
Untuk Hari Esok Yang Lebih Cerah Dart Pada Hart Ini.
Jiwa dan Raga Kami Persembahkan Kepadamu Ibu Pertiwi

Di tempat inilah pada tahun 1946 terjadi pertempuran yang maha dahsyat dipimpin oleh Letan Satu M. Said dan Letnan Muda Murtala dengan tentara Belanda (KNIL). Tertembak mati 35 orang, sedang di pihak TRI gugur 19 orang bersama awak perahu, termasuk :

1. Letnan satu M. Said
2. Letnan Muda Murtala

Dimasukkan dalam sumur tua tempat tonggak sejarah ini berdiri disaksikan oleh :

1. Parappuang
2. M. Dahlan
3. Sahabu

" Kenang, kenanglah kami "

Parengki, 10 November 1978
Ketua BPPD Sulawesi Selatan
(Badan Pembina Pahlawan Daerah)

Ttd


(Andi Oddang)




Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS Letnan Abdul Latief di parengki SUPPA

Latar Belakang Sejarah
Kelompok pasukan ekspedisi TRIPS yang dipimpin oleh Abdul Latief ini terdiri dari sekitar 20 Orang, pasukan ini diberangkatkan dari Situbondo Jawa Timur dengan sebuah perahu layar dalam bulan oktober 1946, dengan penyamaran sebagai pedagang akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di parangki-Barandasi-Suppa., kelompok ini membawa senjata lengkap yang terdiri dari : 1 Mortir (teki-danto) buatan Yogyakarta, 3 pistol, 7 Karabyn 9.5 mm, Owegun, 1 Stegun buatan yogyakarta, dan beberapa lusin peluru organic. Setelah pasukan ekspedisi mendarat dijemput oleh pasukan BPRI-Suppa yang kemudian meneruskan perjalanan ke Markas BPRI-Suppa, Namun karena sakit disentri abdul Latief dibawa ke Makassar untuk mendapatkan pengobatan, tetapi ketika hendak memasuki makassar ia ditangkap oleh pasukan KNIL/westerling ia bersama dua orang pengawal yang ditembak mati saat itu juga, berbekal bahasa belanda Abdul Latief kemudian dibawa untuk menghadap Kapten Wasterling untuk di periksa agar dapat diperlakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan perang Konvensi Genewa.



Image


Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS VII Mayor M. Saleh Lahade
dan Letnan Andi

Ekspedisi Pasukan Komando yang pertama dipimpin Mayor Andi Mattalatta berhasil mendarat dengan selamat di Barru pada tanggal 27 Desember 1946. Pasukan ekspedisi pasukan Komando berikutnya dipimpin oleh Kapten Andi Sarifin berhasil mendarat di Wiringtasi/Soppeng Riaja/Barru. Namun, seminggu setelah pendaratan, pasukan ekspedisi ini tertibat dalam pertempuran di SatossoE dcngan pasukan KNIL/Betanda. Pada pertempuran tersebut, pimpinan pasukan Kapten Andi Arifin gugur sebagai kusuma bangsa, sehingga pimpinan pasukan beralih kepada wakil pimpinan, yaitu Letnan Andi Sapada. Pasukan ekspedisi Komando yang terakhir dipimpin oleh Mayor M. Saleh Lahade dengan staf yang terdiri atas Lettu Andi Oddang, Letnan Sukarno, Letda Dg. Gassing dan Kopral Pasarai dengan anggota pasukan sebanyak 17 orang. Ekspedisi ini berhasil mendarat di Suppa, dan bergabung dengan pimpinan kelaskaran BPRI-Suppa, di antaranya : Andi Selle, Ambo Siradje, Ambo Bunga, Andi Paramajeng, Yusuf Rasul, dan Puang Toreang.

Image

Kemudian, Mayor M. Saleh Lahade berusaha untuk menemui Mayor Andi Mattalatta yang pada waktu itu berada di Paccekke Barru. Usaha untuk menjalin hubungan dengan pimpinan-pimpinan pasukan ekspedisi akhirnya terwujud dalam pertemuan antara pimpinan pasukan, Andi Mattalatta, M. Saleh Lahade dan Andi Sapada di desa Baruga. Dalam pertemuan ini disepakati untuk melaksanakan pertemuan dengan pimpinan-pimpinan kelaskaran di Paccekke pada tanggal 18 Januari 1947. Pemilihan Paccekke sebagai tempat pertemuan antara pimpinan-pimpinan ekspedisi pasukan Komando TRIPS dan pimpinan-pimpinan kelaskaran yang ada di Sulawesi Selatan adalah karena letaknya yang dipandang akan cukup sulit dijangkau tentara Belanda. Paccekke terletak di Wilayah kecamatan Soppeng Riaja-Barru, dengan jarak sekitar 15 km ke arah timur pada jalan poros antara Makassar ke Pare-Pare. Pertemuan itu akhirnya dapat juga terwujud walaupun usaha pimpinan-pimpinan pasukan mendapat rintangan dan tantangan dari tentara Belanda. Pertemuan yang semula direncanakan pada tanggal 18 Januari 1947 itu baru dapat terse(enggarakan pada 20 Januari 1947 dan berlangsung selarna dua han. Pertemuan ini kemudian lebih dikenal dengan Konferensi Paccekke. Konferensi Paccekke dihadiri oleh pimpinan-pimpinan kelaskaran yang mewakili kurang lebih 10 kelaskaran. Pada tanggal 21 Januari 1947, Andi Mattalatta dan M. Saleh Lahade berhasil membentuk TRI Divisi Hasanuddin, sesuai dengan tugas dan wewenang yang diberikan oleh Panglima Besar Sudirman. Oteh karena itu tokoh yang dipilih dan disetujui untuk menjadi Panglima TRI Divisi Hasanuddin, Andi Abdutlah Bau Massepe, telah ditangkap oleh Belanda, maka staf sementara TRI Divisi Hasanuddin berada di bawah pimpinan Mayor Andi Mattalatta dengan M. Saleh Lahade sebagai kepala staf. Staf TRI Divisi Hasanuddin ini dibagi ke dalam empat seksi yang masing-masing secara berurutan dipimpin oleh : Kapten Muhammad Syah, Kapten Maulwi Saelan, Kapten Andi Sapada dan kapten Andi Oddang.

Namun dalam perkembangan kemudian, karena keadaan mereka semakin terdesak dan kekurangan perlengkapan perang seri, semakin gencarnya operasi militer Belanda, sehingga pihak pejuang! akhirnya memilih untuk kembali ke Jawa dan melanjutkau perjuangan di Jawa. Pada butan April 1947, Andi Selle,Andi Oddann" dan ketompoknya menyeberang ke jawa. Disusul kemidian dengan rombongan M. Sated Lahade pada bulan Mel 1947, rombongan Achmad Lamo dkk., pada bulan Juni 1947, romoongan Andi Mattalatta dkk., pada bulan Agustus 1947, dan lain-iainnya. Dan perkiraan 1000 oranq pasukan yang diberangkatkan sebagai anggota pasukan ekspedisi TRIPS ke Sulawesi Selatan, hanya sekitar 100 orang anggota pasukan yang berhasil melotoskan din kembali ke Jawa untuk melanjutkan perjuangan

Uraian Tentang Monumen

Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS yang dipimpinoleh Mayor M. Saleh Lahade dan Letnan Andi Oddang tersebut, terletak di Sabbangparu Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang Propinsi Sulawesi Selatan.

Monumen Pendaratan Ekspedisi TRIPS tersebut berbentuk prasasti dengan tinggi sekitar satu meter lebih, dan ukuran samping kiri/kanan depan/belakang sekitar satu meter, dimana pada bagian atas agak miring sedikit terdapat pada tulisan yang berbunyi sebagai berikut :

EKSPEDISI TRI PERSIAPAN SULAWESI

Dengan Tekad

MERDEKA atau MATI

Di tempat inilah pada bulan Desember 1946 mendarat Ekspedisi

TRI Persiapan Sulawesi. Antara lain :

1. Mayor Saleh Lahade

2. Letnan Andi Oddang

3. Letnan Soekarno

4. Prajurit Pasarai

Disaksikan Oleh :

1. M. Dahlan

2. I. Sidi

"ESA HILANG DUA TERBILANG"

Sabbangparu, 10 Desember 1978

KETUA BPPD SULAWESI SELATAN

(BADAN PEMBINA PAHLAWAN DAERAH)

Ttd.

(Andi Oddang)



SEJARAH KAB. PINRANG

Letak Geografis
Kabupaten Pinrang dengan ibukota Pinrang terletak disebelah 185 km utara ibukota Propinsi Sulawesi Selatan, berada pada posisi 3°19’13” sampai 4°10’30” lintang selatan dan 119°26’30” sampai 119°47’20” bujur timur. Secara administratif, Kabupaten Pinrang terdiri atas 12 kecamatan, 39 kelurahan dan 65 desa. Batas wilayah kabupaten ini adalah sebelah Utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah Timur dengan Kabupaten Sidenreng Rappang dan Enrekang, sebelah Barat Kabupaten Polmas Propinsi Sulawesi Barat dan Selat Makassar, sebelah Selatan dengan Kota Parepare. Luas wilayah Kabupaten mencapai 1.961,77 km².

Topografi Wilayah
Kondisi Topografi wilayah pada umumnya berbukit-bukit dengan ketinggian 100 – 2000 meter di atas permukaan laut.

Swapraja Sawitto, Swapraja Batu Lappa, Swapraja Kassa dan Swapraja Suppa.merupakan pelopor berdirinya kab.pinrang. Ketika Pinrang menjadi onder-afdeling di bawah afdeling Parepare Sementara afdeling Parepare adalah salah satu afdeling dari tujuh afdeling yang ada di propinsi Sulawesi.
Prajurit - parjurit Sawitto dengan gigih mengadakan perlawanan abdi kerajaan mati - matian mempertahankan dan membela bumi ini berkesudahaan dengan kekalahan dipihak Sawitto sehingga raja La Paleteang dan isterinya dibawa ke Gowa sebagai tanda kemenangan Gowa atas Sawitto. Awan yang meliputi kesedihan rakyat atas kepergian sang raja yang arif dan bijaksana. Upaya yang dilakukan membebaskan sang raja bersama permaisuri kerajaan Sawitto. Akhirnya dalam suatu musyawarah kerajaan terpilih dua Tobarani, yaitu Tolengo dan To Kipa untuk mengemban tugas membebaskan sang raja beserta permaisurinya. Kemudian berangkatlah kedua bersaudara tersebut ke Gowa yang berhasil membawa pulang raja La Paleteang beserta permaisurnya. Kedatangan raja bersama permaisuri, disambut dengan luapan kegembiraan dan di elu - elukan sepanjang jalan menuju istana. dibalik kegembiraan itu, mereka terharu melihat kondisi sang raja yang mengalami banyak perubahan seraya mengatakaan " PINRA KANA NI TAPPA NA DATUE POLE RI GOWA " Yang artinya wajah raja menagalami perubahan sekembali dari Gowa. Kata-kata inilah senantiasa terlontar dari orang - oraang yang menyertai sang raja. Ketika raja beristrahat sejenak sebelum tiba di istana bertitahlah sang raja kepada pengantarnya untuk menyebut tempat tersebut dengan nama PINRA.kota Pinrang yang dahulunya rawa-rawa yang selalu tergenang air membuat masyarakat senantiasa berpindah-pindah mencari wilayah pemukiman yang bebas genangan air, berpindah-pindah atau berubah-ubah pemukiman, dalam bahasa bugis disebut "PINRA - PINRA ONROANG" setelah masyarakat menemukan tempat pemukiman yang baik, maka diberinya tempat tersebut:PINRA-PINRA.Dari kedua sejarah yang berbeda itu lahirlah istilah yang sama yaitu " PINRA " kemudian kata itu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh intonasi dan dialek bahasa bugis sehingga menjadi Pinrang yang sekarang ini diabadikan menjadi Kabupaten Pinrang. (dikutip situs resmi kab.Pinrang)

By : JULIANTO ALI

PILKADA PINRANG

Perhelatan akbar pemilihan pemimpin daerah (kab.pinrang) pilkada telah dilaksanakan. 7 kandidat putra terpilih kab. pinrang ikut andil dalam proses tersebut. andi Aslang Patonangi merupakan salah satunya, ASKAR itu sebutan yang dikenal di masyarakat. Kecamatan suppa merupakan wilayah kabupaten pinrang yang patut berbangga ini dikarenakan putra terbaik daerah (A.ASLANG) berasal dari daerah tanah kelahiran bau massepe (kec.Suppa). A.Aslang patonangi merupakan mantan Camat, dimana era kepemimpinannya beliau dikenal dengan kharismatik dan loyal dan peduli dengan masyarakat, hal tersebut yang menjadi landasan dan pondasi utama beliau untuk memimpin Pinrang kelak. pilkada pinrang telah berlangsung alhasil putra A. patonangi berada diposisi teratas menyaingi rifal terbaiknya, akan tetapi PILKADA tersebut belum usai dikarenakan suara belum memenuhi kuaota untuk menjadi pemimpin tanah kelahiran LASINRANG ini. putaran ke 2 menjadi pembuktian apakah sosok seorang kharismatik ini bisa memenangkan pilkada menyaingi A. IWAN (mantan ketua DPRD Pinrang) yang masih satu rumpun dalam keluarganya.
sifat profesionalisme akan dibuktikan, keluarga bukan berarti lawan, lawan bukan berarti keluarga.untuk kemajuan pinrang kelak beliau akan bertarung.......semoga masyarakat bisa menjadi pemilih yang baik dan bisa melihat figur untuk masa depan Kab.Pinrang.

BY: JULIANTO ALI

Jumat, 28 November 2008

Kec. Suppa














gambar : Petani Tambak dan Petani Padi Di kecamatan Suppa

kecamatan suppa salahsatu kecamatan yang berada di kab. Pinrang yang berbatasan
langsung dengan kota madya Pare-Pare. Suppa merupakan daerah yang kaya akan potensi pertanian, perikanan. melihat letak geografis dimana kecamatan merupakan daerah yang datar, yang identik dengan pertanian dan tambak. memasuki kec. suppa kita disuguhi pemandangan yang eksotis lahan pertanian penduduk, tambak yang terhampar luas.
seperti dibahasakan diatas mayoritas masyarakat suppa bergelut menjadi petani dan petani Tambak + Nelayan ( BANDENG + UDANG WINDU). di tahun 90 an banyak investor asing yang masuk di wilayah tanah kelahiran Bau massepe ini. lahan tambak menjadi incaran mereka untuk budidaya udang windu pada saat itu.
Suppa merupakan satu-satunya kecamatan yang paling diminati oleh investor asing dan wilayah pertahanan keamanan INDONESIA di wilayah bagian tengah, ini dikarenakan letak geografis yang memungkinkan.
MAKASSAR POWET (PLTD SUPPA), POL AIRUT POLDA, salah satu bukti nyata bahwa suppa merupakan daerah strategis dan incar pemerintah PUSAT.

TEMAN-TEMAN KPMP PUSAT
















wakil ketua umum KPMP pusat (tengah) beserta rekan pengurus KPMP pusat saudara muckhtar Gatta (kiri) di acara RAKER KPMP Suppa di Tanjung Bayang.

Kamis, 27 November 2008

R A K E R





























Camat Suppa dan sesepuh Beserta DPO Di RAKER (H.LATIEF, KETUA, CAMAT SUPPA, Ir. Abd. Halik, Dr. Mappiati nyorong, Bahrung Rapi)
MEMBAHAS STATUS TANAH SUPPA DI JL.DTK.RIBANDANG

Rapat Kerja pengurus















BANG awies (KPMP Duampanua) Lagi Beretorika.....Maju Bang

RAKER KPMP TANJUNG BAYANG 29 JULY 2008













PENGURUS KPMP CAB. SUPPA PERIODE 2008-2010

GIZI BURUK DI KEC. SUPPA DESA UJUNG LERO

Puluhan anak di Kabupaten Pinrang, Sulawesi selatan, menderita gizi buruk. Seorang di antaranya meninggal dunia dan satu lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Lasinrang.

Anak-anak penderita gizi buruk tersebut berada di Desa Ujunglero, Kecamatan Suppa. Sebagian besar penderita berasal dari keluarga miskin yang tidak mampu memenuhi asupan gizi bagi anak-anak mereka.

Satu dari 10 anak malang itu adalah Wandi Anwar. Kondisi Wandi kini sangat memprihatinkan. Perut anak seorang buruh bangunan ini terus membuncit dan sering mengeluh nyeri pada bagian perut. Bocah berusia tiga tahun ini sehari-hari dirawat neneknya, Nurdiah.

Menurut Nurdiah, ia tidak memiliki biaya untuk membawa cucunya ke dokter. Tahun lalu balita gizi buruk ini pernah mendapat bantuan gizi, seperti susu dan biskuit. Namun, ketika bantuan terhenti, kondisinya kembali menurun hingga sekarang.(DEN)

BY. JULI

KPMP SUPPA

DEWAN PENASEHAT DAN PELINDUNG ORGANISASI

  1. Kepala Pemerintahan Kecamatan Suppa
  2. Kepala Polisi sektor Kecmatan Suppa (Kapolsek Suppa)
  3. Komandan Ramil 1404-02 Kecamatan Suppa
  4. Kakancam Diknas Kecamatan Suppa
  5. Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Suppa

DEWAN PEMBINA ORGANISASI

  1. H. Hamsa Taja, SH. M.H
  2. Dr. Ir. Hatta Patta M.Si
  3. Dr.Drs. Mappeati Nyorong M.Ed
  4. Andi Monji. M.
  5. A. Baso Nurung
  6. Mustari BA
  7. H. Ramli S.E
  8. Ismail Ali BA
  9. H. Abd. Latif
  10. Abd. Rasyid Hasan S.E
  11. Sudarmin, S.Si. M.Si
  12. Drs. Muslimin, M.Ed
  13. Hamka Cinta
  14. Ir. Halik Hasan
  15. Drs. Taufik Yunus
  16. Jalaluddin,S.Pd
  17. Akmal Ismail, S.E
  18. Ahmad Ismail S.Sos
  19. H. Mustapa Ganjeng
  20. Ir.Syahrulla
  21. Ir. Bahrun Rapi
  22. Ibrahim, S.Si
  23. M. Sakir Mustari S.E
  24. Para Kepala Desa Se-Kecamatan Suppa

MAJELIS PERTIMBANGAN ORGANISASI

  1. A. Abbas Monji, S.H
  2. Sahabuddin, S.Kel
  3. Pahrudding, S.T
  4. H. Suhartono, S.Pi
  5. Wahyuddin Ayub, S.T
  6. Musbahuddin Aras S.Pd
  7. Herwin, S.T
  8. Rifqiati Ramli, S.kom
  9. Ramli Samad
  10. Ulfayanti Ismail, S.E
  11. M. Syahrir S.E
  12. Darmawati Aras S.E
  13. Sri Suhartina Manggulita S.E
  14. Edi Suharto Manggulita S.E



Pengurus KPMP SUPAA 2008-2010

  1. Ketua : JULIANTO ALI

    Sekretaris : HAIRUDDIN BAHAR

    Bendahara : RIDHA RASDHIANY RASYID

    Wakil Bendahara : HERA NOVITA SARI

    DEPARTEMEN-DEPARTEMEN

    DEPARTEMEN ADVOKASI DAN AKSI

    Koordinator : Risman Riadi Rasyid

    Anggota : Anas.S

    Wahyuddin Adnan

    Agustriany Yakub

    Risnawaty

    Munawir

    Ikshan haya

    Nurhidayatullah

    DEPARTEMEN PARTISIPASI PEMBANGUNAN DAERAH

    Koordinator : Ardiansyah Aksan

    Anggota : Anggrawansyah

    Ernawansyah

    Asma Sukirman

    Satria.Sarinengsih

    St.Habiba Mas’ud

    Citra Insani

    Arnold Nurdin

    Dedi Setiadi

    Iwan Surahmat

    DEPARTEMEN PEMBINAAN DAN PENGKADERAN

    Koordinator : M. Iqbal ilyas

    Anggota : Patriady

    A. Rahmat

    Widya Angriany

    Syarifa

    Syamsudduha

    Dewi yunita Ali

    Hasniar

    DEPARTEMEN HUBUNGAN MASYARAKAT

    Koordinator : Najamuddin

    Anggota : A. lukman

    Ahmad Syarif

    Arwin Abidin

    Ansar

    Hasra Tanjong

    Syamsul Bahri

    Ulfianty

Lahir di Barugae pada tanggal 26 juli 1984 dari pasangan Ali manrafi dan Imani , mengeyam pendidikan di bangku sekolah dasar 99 pinrang selama 6 tahun, SMP 1 Suppa selama 3 tahun, SMU 1 Suppa 2000-2003 dan berhasil lolos ujian SPMB UNHAS di tahun 2003 di jurusan Ilmu Kelautan samapai sekarang. pegalaman organisasi pengurus osis SMU 1 Suppa pada tahun 2001, ketua pramuka SMU 1 suppa tahun 2002, pengurus senat ilmu kelautan UNHAS periode 2004-2005, pengurus HMI komisariat 2004-2005, pengurus KSR PMI unhas 2006-2007, ketua bidang I KPMP cab. Suppa periode 2005-2007, Ketua Umum KPMP Cab. Suppa 2008-2010, Ketua Bidang PP-KPMP periode 2008-201o.

hobby : Bola, Berenang, Mendaki
makanan favirite : Bakso



JULIANTO ALI

KETUA UMUM PERIODE 2008-2010